Pages

Senin, 13 Januari 2014

Dosen Yang Profesional dan Ideal di Mata Mahasiswa

Ada sebuah pertanyaan mendasar yang sangat sederhana namun berarti yang masih ada di dalam pikiran saya. Sederhana iya, namun memiliki arti yang sangat mendalam bagi saya. “Kenapa memilih menjadi dosen?”. Mungkin awalnya saya masuk ke dunia pendidikan karena kebetulan, namun saya berpikir ulang untuk menyatakan hal yang seperti itu lagi. Karena tidak hal yang kebetulan di dunia ini, semuanya sudah diatur secara indah oleh Sang Maha Pencipta. Banyak alasan tentunya mengapa seseorang memilih profesi sebagai dosen, termasuk saya yang baru menjadi “calon” pendidik di dunia perguruan tinggi ini. Mungkin salah satu alasan yang sangat indah dan sangat senang saya menyampaikannya jika ditanya adalah “keinginan untuk berbagi ilmu dan keinginan untuk mendapatkan ilmu yang baru”. Secara teori menyampaikan alasan tersebut memang mudah, namun secara praktek di lapangan banyak sekali yang tidak mengerti maksud dan cara berbagi ilmu di sini. Berbagi ilmu tidak hanya terjadi di kelas dalam proses belajar mengajar saja, namun semua aspek ini harus disentuh dalam konteks perguruan tinggi. Mulai dari (1) membantu pengembangan individu mahasiswa, (2) meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap aturan-aturan sosial dan moral, dan (3) mentransmisikan pengetahuan (Halstead, 2004). Ketiga hal ini dicapai dengan implementasi ketiga prinsip dalam pendidikan, mulai dari (1) tarbiyah (to grow, increase), (2) ta’dib (to be refined, disciplined, cultured), dan (3) ta’lim (to know, be informed, perceive, discern). Mahasiswa merupakan objek yang dituju seorang dosen dalam berbagi ilmu yang dimilikinya. Mahasiswa sering melakukan penilaian baik secara pribadi maupun secara kelompok mengenai kinerja seorang dosen. Apakah dosen tersebut sudah ideal di mata mereka atau belum. Dosen yang seperti apakah yang ideal di mata mahasiswa? Mungkin untuk saat ini saya belum memiliki mahasiswa untuk tempat berbagi ilmu dan menilai kinerja saya secara formal. Namun, pada artikel ini saya akan membahas tentang dosen yang ideal menurut pendapat ahli dan pandangan saya sebagai mahasiswa dahulunya. Karena apapun jabatan saya sekarang, saya tetaplah mahasiswa dahulunya yang juga melakukan penilaian terhadap kinerja dosen yang mengajar saya. Pintar(cerdas/tanggap) atau mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai, baik hati (murah nilai), mudah ditemui (tidak ada alasan sibuk jika dicari), sabar dan ikhlas dalam membimbing atau menguasai cara mengajar yang efektif dan efisien, kaya, tampan/ cantik (enak dipandang dan menarik dalam menggunakan variasi metode mengajar), dan banyak lagi yang sifat/ karakter yang lain dan hampir semua setuju serta bahagia sekali jika memperoleh dosen seperti itu. Apakah itu yang dimaksud dengan ideal?. Atau sebaliknya dosen yang mempunyai berbagai sifat buruk yang sangat dibenci bahkan dijauhi oleh mahasiswa umumnya malah yang menjadi sosok dosen yang ideal. Pertanyaan tentang ukuran ideal atau tidaknya seorang dosen memang tidak ada alat ukur (standar) yang jelas dan diterima oleh semua pihak. Lalu apakah ideal sama artinya dengan kesempurnaan sifat seorang dosen? Ujung-ujungnya tidak akan pernah diperoleh kesimpulan yang pasti tentang persepsi dosen yang ideal. Atau jangan-jangan istilah ideal dapat dianalogikan seperti kondisi berat badan seseorang yang wajar dan memenuhi persamaan : h = 110 + w dengan h adalah tinggi badan dan w adalah berat badan seseorang. Jika diaplikasikan pada karakter seorang dosen, maka persamaan tersebut dapat diartikan bahwa posisi/ kedudukan dosen ditentukan oleh berat (banyaknya) ilmu yang dikuasainya. Namun tidak ada jaminan bahwa persamaan tersebut dapat diterapkan pada semua kondisi terutama jika kedudukan dosen tersebut diperoleh dengan curang (keturunan atau kekayaan dari leluhurnya). Disisi lain, hal tersebut juga didukung oleh beberapa pihak yang menganut aliran bahwa profesi di Indonesia ditentukan/ dihargai dengan gelar seseorang. Sesuai nama dan kemiripan tugasnya, dosen dalam dunia pendidikan bisa diartikan sebagai guru. Dosen sebagai figur seseorang yang dapat dijadikan panutan dan contoh dalam setiap perbuatan dan perilakunya. Tidak hanya sebagai pengajar yang senantiasa memberikan materi-materi perkuliahan yang kurang berkembang sesuai tuntutan jaman, namun tugas utamanya adalah sebagai seorang pendidik yang dapat menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa yang cemerlang. Dosen atau sering dikenal dengan mahaguru, sebuah gelar yang sangat berat untuk disandang karena ada kata-kata maha yang biasanya digunakan untuk menyebut nama Tuhan (Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan 99 nama-NYA yang lain). Gelar tersebut diberikan bukan karena yang dihadapi adalah mahasiswa sehingga gurunya disebut mahaguru, tetapi terlebih pada makna tingkatan seseorang yang mencapai kecerdasan dan kemuliaan oleh ilmu yang dimilikinya. Oleh sebab itu, dosen seharusnya memiliki karakter yang melekat pada profesi mahaguru. Karakter yang bagaimana yang seharusnya melekat pada profesi mahaguru ini? Apakah penampilan fisik dosen mempengaruhi? Apakah sebaiknya pasang muka/suara serius atau justru sering nglucu biar dibilang humoris? Namun demikian, dosen yang mendapatkan pelatihan atau pendidikan yang cukup terkait dengan pembelajaran pun, tidak serta merta dijamin akan dapat menjadi dosen yang baik atau ideal. Ada unsur personalitas, filosofi, keseriusan dosen dan masih banyak faktor lainnya. Ada sebuah referensi dari Dedi Supriadi (1998) tentang karakter/ ciri-ciri seorang dosen ideal yang dianut oleh mahasiswa umumnya dan saya sependapatan dengannya, antara lain : 1. Mempunyai komitmen yang tinggi kepada kepentingan siswa 2. Menguasai materi serta cara mengajarkannya 3. Bertanggungjawab memantau hasil belajar siswa 4. Mampu berfikir sistematis dan efisien 5. Tingkat partisipasi atau kepedulian kepada masyarakat cukup baik Tanggapan saya sebagai mahasiswa dulunya terhadap kelima karakter/ ciri-ciri dosen ideal diatas jika dikaitkan dengan kehidupan yang ada di kampus adalah : 1. Mempunyai komitmen tinggi terhadap kepentingan mahasiswa. Walaupun dosen juga manusia sosial yang mempunyai kepentingan yang beraneka ragam seperti keluarga, pendapatan, pangkat, dll, namun jika dosen tersebut sudah berada pada lingkungan yang dinamakan kampus tugas pokoknya hanya satu yaitu mencerdaskan mahasiswa. Terlepas dari urusan lainnya, dosen wajib mendahulukan kepentingan mahasiswa daripada kepentingan lainnya seperti proyek, bisnis, dll. Hal ini wajar karena ikrar pertama (niat) dosen adalah sebagai pengajar bukan pebisnis atau profesi lain yang bertentangan kodrat tersebut. 2. Menguasai materi dan cara menyampaikannya. Jika dosen telah mendedikasikan diri untuk mencerdaskan bangsanya, tentunya dosen tersebut akan memberikan seluruh materi yang telah dikuasainya. Selain itu, jika menghadapi kondisi dimana materi yang disampaikan belum pernah dipelajari atau lupa kerena sesuatu hal, maka sebaiknya dosen tidak malu untuk jujur dan tidak pernah menyerah untuk belajar kembali. 3.Bertanggung jawab memantau hasil belajar mahasiswa. Hal ini menarik untuk diperhatikan. Pada kenyataannya mayoritas dosen hanya memberikan penilaian pada hasil belajar mahasiswanya tanpa memperdulikan faktor apa yang menyebabkan mahasiswa tersebut memperoleh nilai tersebut. Anggapan bahwa mahasiswa adalah seorang yang mempunyai tingkat kedewasaan yang lebih daripada anak SMA/ SMP adakalanya benar karena mahasiswa berhak memilih jalan yang diyakininya. Namun dalam kontek ini, peran dosen lebih pada proses menunjukkan pilihan yang seharusnya ditempuh atau memberikan alternatif-alternatif pilihan. Sehingga mahasiswa tidak mengalami masalah yang tidak kunjung usai dan akhirnya memilih jalan yang salah. Karakter seperti ini biasanya dimiliki oleh pada dosen wanita namun tidak menutup kemungkinan dosen laki-laki melakukan hal tersebut. 4.Mampu berfikir sistematis dan efisien. Ciri umum ini sudah selayaknya dimiliki dosen khususnya untuk mata kuliah yang sifatnya aplikatif (perlu proses perhitungan dan penjabaran konsep dasar) dan tidak sekedar hafalan. Pemikiran yang sistematis dan efisien cenderung dimiliki oleh kaum laki-laki daripada perempuan. 5.Partisipasi dan kepedulian kepada masyarakat cukup baik. Sebenarnya ciri-ciri kelima ini merupakan cerminan keberhasilan dari seorang dosen atau mahaguru karena hal ini yang membedakan dengan seorang guru biasa (guru SMA, SMP, dsb). Karena peduli terhadap kondisi masyarakat sekitar berarti seorang dosen telah mampu menunjukkan pengabdian ilmu yang dimilikinya serta keahlian yang dikuasainya untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia. Selain itu, dosen dapat membuktikan bahwasannya ilmu tersebut tidak sekedar materi di kelas yang belum jelas kegunaanya melainkan ilmu yang sangat berguna sebagai bekal hidup mahasiswa ke depan. Arti peduli pada masyarakat bukan berarti mengerjakan proyek-proyek yang selama ini dilakukan oleh sebagian besar dosen di Indonesia karena faktor pendapatan yang kurang mencukupi. Proyek boleh saja dikerjakan namun yang menjadi masalah adalah kepentingan mahasiswa yang tidak boleh dikesampingkan seperti ciri-ciri yang pertama. Niat mulia untuk menjadi dosen perlu dipertanyakan lagi jika hal ini terjadi atau mungkin dosen hanya sebagai profesi sampingan saja. Di samping itu, menurut Ilyas, S.Pd (http://educare.e-fkipunla.net) ada sepuluh peran dan fungsi dosen yang ideal antara lain : 1. Dosen adalah sebagai organisator artinya dosen harus mampu mengorganisasi kegiatan belajar mahasiswa sehingga mencapai keberhasilan belajar yang optimal. 2.Dosen sebagai fasilitator artinya dosen harus mampu memberikan kebebasan bagi mahasiswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya serta berusaha membina kemandirian mahasiswa. 3.Dosen sebagai inovator artinya pengetahuan yang disampaikan kepada mahasiswa harus selalu up to date, dalam arti mampu menyerap nilai-nilai budaya yang serba canggih, selalu mengkaji pengalaman, selalu mengkaji ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap demokratis, memberikan kemungkinan kepada mahasiswa untuk berkreasi dan dapat menemukan konsep dan prinsip sendiri serta membantu mahasiswa dalam mencari sumber dan kegiatan belajar. 4.Dosen sebagai penemu artinya disamping tugas pokoknya mengajar, dosen juga harus melaksanakan penelitian baik yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar maupun yang sesuai dengan bidang keahliannya. Diharapkan dosen mampu menghasilkan temuan-temuan baru yang konstruktif untuk selanjutnya dapat disumbangkan kepada penentu kebijakan melalui lembaganya masing-masing demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 5.Dosen sebagai teladan artinya yang memberi contoh bukan hanya cara berpikir saja tetapi dalam hal bersikap, bertindak serta berprilaku. 6.Dosen sebagai evaluator artinya harus mengerti, memahami dan menguasai hakekat evaluasi. Evaluasi di sini dapat dipergunakan secara tidak terbatas, meliputi beberapa aspek kehidupan, tetapi juga dapat dipergunakan untuk melihat satu aspek saja, tetapi juga prestasinya. Perlu diperhatikan pula bahwa evaluasi terhadap hasil belajar itu menunjukkan pula bagaimana prestasi mengajar dosen. 7.Dosen adalah sebagai pemandu artinya menunjukkan jalan bagi perjalanan belajar para mahasiswanya. 8.Dosen sebagai pencipta artinya dosen harus mampu menciptakan situasi dan kondisi belajr yang kondusif sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik. 9.Dosen sebagai pengabdi dan pelayan bagi masyarakat artinya dosen selain mengajar juga melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan ilmu pengatahuan serta pengalaman dan segala potensi yang dimiliki sebagai sumbangsihnya untuk kemajuan masyarakat. 10.Dosen sebagai konsellor artinya dosen harus mampu membantu mahasiswanya dalam memecahkan kesulitan baik dalam kegiatan belajar maupun yang lainnya. Maka dari itu seorang dosen harus memahami prinsip-prinsip bimbingan, memahami psikologi belajar, teori belajar, juga tentang ilmu kesehatan jiwa. Dari beberapa ulusan diatas dapat disimpulkan bahwa dosen yang ideal adalah dosen yang mampu membawa anak didiknya menjadi orang yang sukses menjalani kehidupan bermasyarakat dan peduli terhadap sesama sehingga kondisi masyarakat Indonesia menjadi tentram, damai, sejahtera. Tidak hanya menghasilkan lulusan-lulusan yang sangat kompeten di bidangnya tetapi juga mampu menggunakan/ mengamalkan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. Bagi beberapa orang yang pandai (berada diatas rata-rata mahasiswa biasanya atau bias disebut cumlaude), peran dosen tidak seberapa berpengaruh terhadap prestasinya. Jika memperoleh dosen yang kurang bersahabat, maka mereka banyak belajar mandiri dengan koleksi buku-bukunya atau akan merebut hatinya dengan selalu menjadi perhatian dosen tersebut sehingga terlihat mempunyai perbedaan yang menonjol dengan mahasiswa lainya. Sebaliknya jika memperoleh dosen yang sangat murah hati, maka mereka akan sering bertanya dalam setiap perkuliahan sehingga dianggap mahasiswa yang sangat aktif. Saya dulunya memang berasal dari mahasiswa cumlaude, namun peran dosen sangatlah penting bagi saya. Karena jika dosen seorang dosen tidak melakukan peran sebagai dosen yang baik dan sewajarnya, saya juga akan merasa kewalahan dalam belajar sama seperti mahasiswa lain pada umumnya. Artikel ini dibuat oleh seorang Calon Pendidik Komunitas yang dahulunya juga menjadi seorang mahasiswa biasa yang berusaha menyikapi persoalan pendidikan. Belajar seperlunya dan tidak terlalu memaksakan diri untuk selalu mendapatkan nilai yang bagus. Nilai tidak menjadi tujuan utama dalam proses pembelajaran karena kita harus percaya bahwa nilai tersebut merupakan cerminan dari setiap usaha yang telah kita lakukan.

Kamis, 05 September 2013

TEORI AKUNTANSI "KONSEP DASAR"

KONSEP DASAR
A.    Pengertian
Konsep dasar umumnya merupakan abstraksi atau konseptualisasi karakteristik lingkungan tempat atau wilayah diterapkannya pelaporan keuangan. Menurut Paul Grady, konsep dasar merupakan konsep yang mendasari kualitas kebermanfaatan dan keterandalan informasi akuntansi atau sebagai keterbatasan yang melekat pada statemen keuangan.
(Suwardjono,2005:211)
B.     Sumber konsep dasar
Berikut adalah beberapa daftar seperangkat konsep dasar dari beberapa sumber :
a)      Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
IAI mengadopsi kerangka konseptual IASC sehingga konsep dasar yang dipilih juga mengikuti IASC. Ada dua konsep dasar (dinamakan asumsi pelandas atau underlying assumptions) yang disebut secara spesifik dalam rangka rerangka konseptual IASC.
Konsep dasar tersebut adalah :
·         Basis accrual (accrual basis)
·         Usaha berlanjut (going concern)
b)      Paul Grady
Grady mengasumsi sepuluh konsep dasar yang dianggap melandasi praktik bisnis dan akuntansi di Amerika :
1)      Struktur masyarakat dan pemerintah yang mengakui hak milik pribadi
2)      Entitas bisnis spesifik
3)      Usaha berlanjut
4)      Penyimbolan secara moneter dalam seperangkat akun
5)      Konsistensi antar periode untuk entitas yang sama
6)      Keanekaragaman perlakuan akuntansi diantara entitas independen
7)      Konservatisme
8)      Keterandalan data melalui pengendalian internal
9)      Materialitas
10)  Ketepatan waktu dalam pelaporan keuangan memerlukan taksiran 
c)      Accounting Principles Board
APB menyebut konsep dasar sebagai ciri-ciri dasar dan memuatnya dalam APB Statement No.4. APB mengidentifikasi tiga belas konsep dasar yang merupakan karakteristik diterapkannya akuntansi yaitu :
1)      Entitas akuntansi
2)      Usaha berlanjut
3)      Pengukuran sumber ekonomik dan kewajiban
4)      Perioda perioda waktu
5)      Pengukuran dalam unit uang
6)      Akrual
7)      Harga pertukaran
8)      Angka pendekatan
9)      Pertimbangan
10)  Informasi keuangan umum
11)  Statement keuangan berkaitan secara mendasar
12)  Substansi dari bentuk
13)  Materialitas
d)     Wolk, Tearney, dan Dodd
Wolk dan Tearney mendaftar empat konsep yang dianggap sebagai postulat dan beberapa sebagai prinsip berorientasi – masukan yaitu: recognition, matching, conservatisme, disclosure, materiality, dan objectivity dan prinsip berorientasi-keluaran yaitu : comparability, consistency dan uniformity. Keempat konsep yang dikategorikan postulat adalah :
·         Usaha berlanjut
·         Perioda waktu
·         Entitas akuntansi
·         Unit moneter
e)    Anthony, Hawkins, dan Merchant
Penulis ini mendaftar sebelas konsep berikuit ini yang dijadikan basis dalam membahas isi, bentuk, dan arti penting statement keuangan. Konsep dasar 1-5 dikategorikan sebagai pelandas statement posisi keuangan sedangkan konsep dasar 6-11 sebagai pelandas statement laba rugi. Berikut adalah sebelas konsep dasar :
1)      Pengukuran dengan unit uang
2)      Entitas
3)      Usaha berlanjut
4)      Kos
5)      Aspek ganda
6)      Perioda akuntansi
7)      Konservatisme
8)      Realisasi
9)      Penandingan
10)  Konsistensi
11)  Materialitas
(Suwardjono, 2005:211-214)

C.    Konsep Dasar Patton dan Littleton

TEORI AKUNTANSI "Perekayasaan Pelaporan Keuangan Dan Rerangka Konseptual - Lanjutan"

Perekayasaan Pelaporan Keuangan
Dan Rerangka Konseptual
Pembahasan sebelumnya :
A.    Perekayasaan pelaporan keuangan           
1.      Proses Perekayasaan
2.      Konsep Informasi Akuntansi
3.      Rerangka Konseptual
4.      Prinsip Akuntansi Berterima Umum
B.     Kerangka konseptual
1.      Pengertian dan Sasaran
2.      Manfaat dan Kungsi
3.      Rerangka Konseptual FASB
·         Tujuan pelaporan keuangan
·         Criteria kualitas informasi
·         elemen-element statemen keuangan
·         Pengukuran dan pengakuan
Pembahasan sekarang :
4.      Rerangka Konseptual SAK
      Kerangka konseptual digunakan sebagai pedoman penyusunan standar dalam mengembangkan standar masa mendatang, sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan akuntansi yang belum diatur dalam standar yang telah ada.
      Penerapan standar oleh manajemen harus menggunakan pertimbangn profesional dalam menentukan kebijakan akuntansi sehingga menghasilkan informasi yang relevan dan andal. Manajemen mempertimbangkan defenisi, kriteria pengakuan, serta konsep pengukuran untuk asset , liabilitas, pendapatan dan beban dalam kerangka konseptual.
Kerangka konseptual di tujukan untuk:
1.      Penyusun standar akuntansi keuangan dalam pelaksanaan tugasnya
2.      Penyusun laporan keuangan untuk menanggulangi masalah akuntansi yang di atur dalam standar akuntansi keuangan.
3.      Auditor dalm memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan di susun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.
4.      Para pemakai dalam menafsirkan informasi yang di sajikan dalam laporan keuangan.
Kerangka konseptual bukan merupakan standar akuntansi keuangan. Dalam hal ini terjadi pertentangan antar ketentuan standar akuntansi keuangan dengan ketentuan dalam kerangka konseptual, maka ketentuan dalam standar akuntansi keuangan di unggulkan. Penyusunan standar menggunakan kerangka konseptual ini sebagai acuan sehingga di harapkan konflik antar standar  dan kerangka konseptual akan berkurang dengan berlalunya waktu.  Contoh: kerangka konseptual menggunakan konsep harga perolehan dalam mencatat nilai asset,, namun dalam PSAK 19 asset tak berujud menyatakan bahwa pengakuan nilai asset tak berwujud dari kegiatan pengembangan internal di lakukan setelah memenuhi kriteria tertentu. Berdasarkan konsep tersebut  biaya yang telah di keluarkan pada periode seblumnya tidak di kapitalisasi sehingga nilai asset tak berwujud tidak mencerminkan substansi ekonomi nilai perolehan dari asset tak berwujud tersebut.
Kerangka konseptual menurut PSAK terdiri atas
1.      Pengguna laporan keuangan
2.      Tujuan laporan keuangan
3.      Asumsi dasar
4.      Karakteristik kualitatif
5.      Konsep pengakuan unsur laporan keuangan
6.      Konsep pemeliharaan modal
Informasi keuangan di tujukan untuk pengambilan keputusan bagi para pemakai. Informasi keuangan yang di susun harus memenuhi karakteristik kualitatif, relevan, keandalan, dan dapat di pahami. Agar memiliki kualitas yang Relevan, laporan keuangan harus memiliki niali prediksi, niali konformasi, dan memperhatikan konsep materialitas. Untuk dapat memiliki kualitas keandalan, informasi harus bebas dari bias dengan pertimbangan yang sehat, memperhatikan kelengkapan, serta penyajian yang wajar dengan berpegang pada konsep substansi mengungguli bentuk. Laporan keuangan harus dapat di bandingkan dengan , menjaga prinsip konsistensi dan pengungkapannya. Penyusunan laporan harus memperhatikan faktor tepat waktu, keseimbangan antara karakteristik kualitatif.
Kerangka konseptual mengatur tentang pengakuan dan pengukuran unsur-unsur dalam laporan keuangan. Unsur laporan keuangan yang di jelaskan adalah asset, liabilitas, pendapatan dan beban. Kaidah dalam konseptual  ini di gunakan jika dalam praktek tidak ada standar akuntansi khusus yang mengatur tentang transaksi tersebut. Contoh, pengaturan tentang asset tetap tidak mengikuti peraturan umum dalam kerangka konseptual karena telah ada standar akuntansi yang mengatur yaitu PSAK 16. Namun untuk perlakuan akuntansi biaya dibayar di muka, penyususnan laporan keuangan dapat menggunakan asumsi dasar akrual, konsep umum pengakuan beban sebagai dasar dalam mengakui, dan mengukur biaya di bayar di muka.
Konsep pembiayaan modal menjelaskan dua hal pemeliharaan modal yaitu modal fisik dan modal keuangan. Konsep ini akan mempengaruhi pemahaman tentang laba suatu entitas karena menggunakan sudut pandang yang berbeda. Keberadaan kerangka konseptual yang komprehensif  mempengaruhi arah pengembangan standar akuntansi dimasa mendatang yang akirnya akan mempengaruhi kulitas informasi yang di hasilkan

Keranka konseptual menurut IFRS
Selengkapnya di 


S

TEORI AKUNTANSI "PEREKAYASAAN PELAPORAN KEUANGAN DAN RERANGKA KONSEPTUAL"

PEREKAYASAAN PELAPORAN KEUANGAN DAN RERANGKA KONSEPTUAL

A.     PEREKAYASAAN PELAPORAN KEUANGAN
Perekayasaan adalah proses terencana dan sistematis yang melibatkan pemikiran, penalaran, dan pertimbangan untuk memilih dan menentukan teori, pengetahuan yang tersedia. Konsep, metoda, teknik, serta pendekatan untuk menghasilkan suatu produk.
Akuntansi secara luas didefinisakn sebagai seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan , pemyediaan jasa secara nasional berupa informasi keuangan kuantitif, unit unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu dan cara penyampaian informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomik.
Pelaporan keuangan nasional harus direkayasa secara saksama untuk pengendalian alokasi sumber daya secara otomatis melalui mekanisme sistem ekonomik yang berlaku. Dalam pelaporan keuangan, pengendalian secara otomatis dicapai dengan ditetapkannya suatu pedoman pelaporan keuangan yaitu prinsip akuntansi yang berterima umum /PABU (GAAP) termasuk di dalamnya standar akuntansi.
Dalam perekayasaaan pelaporan keuangan , akuntansi memanfaatkan pengetahuan dan sains dari berbagai disiplin ilmu. Tujuan akuntansi akan menjadi kekuatan pengarah dalam merekayasa akuntansi karena tujuan tersebut akan digunakan untuk mengevaluasi kebermanfaatan dan keefektifan produk yang dihasilkan.
1.      Proses Perekayasaan
Pelaporan keuangan adalah struktur dan proses akuntansi yang menggambarkan bagaimana informasi keuangan disediakan dan dilaporkan untuk mencapai tujuan ekonomik dan sosial negara. Perekayasaan akuntansi adalah proses pemikiran logis dan objektif untuk membangun suatu struktur dan mekanisme pelaporan keuangan dalam suatu negara untuk menunjang tercapainya tujuan negara.

Perekayasaan akuntansi adalah proses pemikiran logis dan objektif unutk membangun suatu struktur dan mekanisme pelaporan keuangan dalam suatu negara untuk menunjang tercapainya tujuan suatu negara. Proses perekayasaan akuntansi dapat dilukiskan pada gambar berikut ini .
Selengkapnya di http://www.4shared.com/office/iXD0sEnR/perekayasaan_pelaporan_keuanga.html

TEORI AKUNTANSI "PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN"

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN
IAS 1 menetapkan seluruh persyaratan yang berguna untuk menyajikan laporan keuangan untuk kebutuhan umum, yang menguraikan pedoman untuk strukturnya, dan mendasari persyaratan minimum atas isinya dan pengungkapannya. Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomis. Tujuan IAS1  adalah untuk untuk  memastikan informasi yang dapat diperbandingkan dengan menyajikan laporan keuangan entitas periode sebelumnya dan dengan menyajikan laporan keuangan entitas lainnya. Laporan keuangan disusun atas dasar kelangsungan hidup usaha(Going concern). Suatu entitas menyusun laporan keuangannya berdasarkan dasar akuntansi akrual kecuali untuk laporan arus kas. (Ankarat, 2012:21)
1.      Laporan Posisi Keuangan (IAS 1)
Sebelum masuk tentang laporan posisi keuangan, akan lebih baik kita membahas tentang IAS 1 terlebih dahulu.
IAS 1
Tujuan dari IAS 1 ini adalah :
q  Dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) agar dapat dibandingkan dengan periode sebelumnya dan entitas lain.
q  IAS 1 ini juga mengatur:
§  persyaratan bagi penyajian laporan keuangan
§  struktur laporan keuangan
§  persyaratan minimum
§  isi laporan keuangan.
Ruang lingkup dari IAS 1 adalah :
q  Entitas menerapkan Pernyataan ini dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.
q  Pernyataan ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah.
Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan dari laporan keuangan itu sendiri adalah :
     memberikan informasi mengenai:
     posisi keuangan,
     kinerja keuangan
     arus kas entitas
yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.
     Menunjukan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
     menyajikan informasi :
·         aset;    
·         liabilitas;
·         ekuitas;           
·         pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;
·         kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik;dan
·         arus kas.
Komponen laporan keuangan
Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari :
  • Laporan Posisi Keuangan (neraca pada akhir periode);
  • Laporan Laba Rugi Komprehensif selama periode;
  • Laporan Perubahan Ekuitas selama periode;
  • Laporan Arus Kas selama periode;
  • Catatan atas Laporan Keuangan berisi informasi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informsi penjelasan lain.
  • Laporan Posisi Keuangan pada awal periode komparatif, ketika entitas :
         menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif
         membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan
         mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.
Entitas menyajikan semua komponen laporan keuangan lengkap dengan keutamaan yang sama. Manajemen entitas bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
            Karakteristik umum dari IAS 1 adalah :
  • Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap SAK :
         Menyebutkan secara explisit kepatuhan terhadap SAK
         Kepatuhan terhadap PSAK memberikan pemahaman yang salah (kondisi jarang terjadi) à tidak sesuai PSAK
  • Kelangsungan usaha; Laporan keuangan disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, mengungkapkan fakta jika terjadi pelanggaran asumsi.
  • Akuntansi berbasis akrual
  • Material dan agregasi
§  Saling hapus                à Tidak boleh kecuali disyaratkan atau diizinkan suatu
     PSAK
  • Frekuensi pelaporan    à Tahunan
  • Informasi komparatif  à Periode sebelumnya
  • Konsistensi penyajian à Penyajian dan klasifikasi
(Ankarat, 2012:21-24)

Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Selengkaonya di http://www.4shared.com/office/nrGIodj6/penyajian_laporan_keuangan.html